beritaGo.com
 
 
   
 
 
Tutup Iklan
ads
 

Halal dan Lezat dari Tokyo

Halal dan Lezat dari Tokyo

 
wildan
2016-02-13 10:14:27
wildan Kuliner 0 184
 
 
Halal dan Lezat dari Tokyo

Halal dan Lezat dari Tokyo

DI ”Negeri Sakura” kian mudah menemukan restoran penyedia makanan halal. Salah satunya restoran Sumiyakiya Nishiazabu yang menyajikan ayam panggang lezat dengan kuah sup gurih. Obat rindu dan lapar yang sungguh sedap disantap kala udara dingin menyengat.

Sumiyakiya Nishiazabu terletak di kawasan Roppongi, Tokyo. Posisinya di pinggir jalan dan mudah dijangkau dengan berbagai transportasi, baik bus tur, taksi, maupun kereta.

Dari Stasiun Roppongi, misalnya, Sumiyakiya hanya berjarak 5 menit-8 menit dengan berjalan kaki. Sementara dari Stasiun Nogizaka, Sumiyakiya berjarak lebih kurang 10 menit. Selain memampang nama restoran, di bagian muka juga dilengkapi dengan tanda halal dan papan nama berisi beberapa pilihan menu yang disajikan di restoran itu lengkap dengan harganya.

Bagi wisatawan yang Muslim, Sumiyakiya rupanya cukup populer, termasuk wisatawan dari Indonesia. Demikian pula di kalangan warga Jepang yang berdomisili di Tokyo. Sumiyakiya sudah jauh lebih dikenal ketimbang sekitar lima tahun lalu saat baru dibuka.

Tidak mengherankan jika pada jam-jam makan, yaitu makan siang dan makan malam, pengunjung mengantre di depan restoran.

Termasuk ketika rombongan kami yang terdiri atas para kepala sekolah dan perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang tengah berkunjung ke Tokyo atas undangan Japan Foundation, makan siang di sana beberapa waktu lalu.

Belum lagi kami selesai makan, antrean sudah mengular. Maklum saja, restoran yang dikelola Roger Bernard Diaz (47) asal Sri Lanka itu berukuran mungil. Di dalam restoran hanya tersedia tempat duduk untuk 25 orang. Ruangan yang tersisa di bagian belakang restoran digunakan untuk dapur.

Meski tidak seberapa luas, interior restoran yang merupakan perpaduan antara gaya Jepang dan gaya industrial membuat suasana di dalam restoran nyaman. Sembari menanti pesanan makanan datang, kami bisa mengobrol dengan santai.

Siang itu, kami menikmati menu chicken herb. Menu ini terdiri dari beberapa item seperti ayam panggang yang disajikan dengan kuah kaldu ayam yang bercita rasa gurih segar, taoge rebus yang sedikit dibumbui, serta nasi putih pulen lembut khas Jepang.

Bintang dari sajian ini ialah ayam yang dipanggang di atas panggangan menggunakan arang. Bumbu yang digunakan untuk melumuri daging ayam terasa pas untuk lidah orang Asia. Alhasil, daging ayam yang disajikan di atas piring putih bertuliskan halal itu terasa tak asing di lidah kami.
 

KOMPAS/DWI AS SETIANINGSIHPengunjung asal Indonesia menikmati menu chicken herb di restoran halal Sumiyakiya di Jepang.

Kulit dan daging di bagian luarnya terasa kering dan gurih, hampir terasa seperti digoreng. Sementara daging bagian dalamnya terasa kenyal dan kaya cita rasa. Aroma asap dari proses pemanggangan yang terasa lamat-lamat membuat setiap irisan dagingnya makin menggugah selera.

Disantap bersama nasi pulen yang masih mengepul, kuah kaldu nan gurih dengan taoge rebus, sungguh menghadirkan kenikmatan. Sajian itu mengingatkan pada cita rasa ayam panggang yang biasa disantap di Tanah Air.

Terlebih lagi dengan paduan kimchi khas Korea, yang asam-segar-sedikit pedas, makin lengkaplah sajian chicken herb membetot lidah dan perut. Seluruh sajian tandas dalam waktu singkat, dengan tingkat kenikmatan maksimal.

Segelas teh hijau Jepang panas pada akhir sajian menghalau udara di luar yang dingin, berangin, membuat bulu kuduk meremang. Sungguh pengalaman rasa yang tidak terlupakan. Rasa rindu akan masakan Tanah Air sekaligus rasa lapar di udara dingin Tokyo pun tuntas sudah.

Pilihan menu

Menurut Roger, restoran yang dia kelola tersebut sesungguhnya sudah berusia 14 tahun. Namun, baru lima tahun belakangan ini, restorannya berubah menjadi restoran halal. Sumiyakiya artinya dipanggang di atas api menggunakan arang.

Roger memutuskan mengubah restorannya menjadi restoran halal untuk memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim yang selama ini kesulitan menemukan restoran halal di Tokyo. Salah satunya dari Indonesia yang jumlah wisatawannya cukup besar.

Roger bekerja sama dengan seorang kolega asal Malaysia yang selama ini aktif mempromosikan makanan halal di Jepang. ”Dia datang ke tempat saya dan saya akhirnya setuju untuk membuka restoran yang menyediakan makanan halal,” kata Roger.

Karena Roger bukan seorang Muslim, sebelum mulai mengelola Sumiyakiya, Roger banyak belajar tentang Islam, termasuk syarat dan ketentuan produk halal. Apalagi, sejak awal, Sumiyakiya didesain menyediakan berbagai pilihan menu.

Selain menyediakan paket menu ayam, seperti chicken herb, Sumiyakiya juga menyediakan banyak menu pilihan lain dengan daging dimasak ala yakiniku. Dalam istilah Jepang, yakiniku adalah daging yang dipanggang atau dibakar di atas api.

Yakiniku juga mencakup berbagai masakan daging serta barbeque, seperti barbeque ala Korea yang disediakan Sumiyakiya. Ini menjelaskan mengapa dalam menu chicken herb yang kami nikmati disajikan pula kimchi sebagai pelengkap.

Bagi Roger sangat penting membuat pelanggan-pelanggannya merasa yakin dengan apa yang mereka santap di restorannya. Untuk menu berbahan dasar ayam, Roger bahkan mengunjungi tempat pemotongan hewan di Miyazaki demi memastikan bahan baku yang dia gunakan dipotong sesuai prosedur halal dalam Islam.
 

KOMPAS/DWI AS SETIANINGSIHSumiyakiya di Tokyo, Jepang, tampak depan dengan promosi label halalnya.

Untuk lebih meyakinkan pelanggan, Roger juga memasang sertifikat halal sebagai jaminan bagi produk-produk makanan halal yang mereka sajikan.

Dari sisi penyimpanan bahan baku, Roger memberlakukan prosedur ketat. Dia membuat sendiri seluruh saus yang dia gunakan untuk hidangan di restorannya. ”Semuanya buatan rumahan dan saya sendiri yang membuatnya. Jadi, saya tahu bahan yang terkandung di dalamnya,” ujar Roger.

Soal cita rasa, Roger berusaha menyesuaikan penggunaan saus rendaman daging dengan latar belakang atau asal pengunjung restorannya. Itu karena banyak Muslim datang dari negara yang berbeda, seperti dari Asia, Eropa, dan Timur Tengah.

”Standar cita rasa Muslim dari setiap negara tidak sama. Karena itu, saya selalu cek mereka datang dari mana untuk menyesuaikan saus dengan hidangan yang mereka inginkan. Sejauh ini, mereka puas,” kata Roger seraya tersenyum

 
 
 

Promoted Stories

Lainnya

 
 

Komentar Sedulur

   Belum ada komentar dari sedulur beritaGo.

  Tulis Komentar

   Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
 

Komentar Facebook

   
image

beritago.com merupakan portal berita dan informasi yang mengusung konsep "social media journalism", yakni dimana masyarakat dapat ikut menjadi kontributor informasi serta menggunakan portal beritaGo.com dengan bertanggungjawab dan sesuai dengan ketentuan penggunaan yang telah ditetapkan,

Informasi dan Kerjasama

  •   contact@beritaGo.com
  •  08123456789 / 024-123456
  •  indiego inti corpora ltd
   
 
 
Copyright 2016 beritaGo by indiego inti corpora. Social Media Journalism and Social Broadcasting System. All Rights Reserved.

Local Straight News , Aggreggate Content dan Social Media Journalism oleh beritaGo.com
Copyright 2014-2016 All Rights Reserved. beritaGo.com is a registered trademark of indiego inti corpora
Jawa Tengah, Indonesia.

Tutup Iklan